Kerna
Hati ini menangis bila terdengar ada insan yang menitiskan air mata untuk seorang yang lazim seperti ku ini. Hati rapuh umpama usang di makan zaman. Di reput oleh perasaan ingin mengerti nasib diri ini. Aku bagaikan terlalu lemah untuk mengheret naluri ku membelai perasaan kasih sayang selain kisah cinta sejati. Kenapa aku menanti pada yang tidak mahu kembali sedangkan sang bidadari lain sedang memerhati. Rentetan hidupku masih terlalu jauh , sebuah kisah cinta hanya sebagai permainan hawa diri ini yang ingin di kasihi.
Sungguh enak bila si mata bertemu mata , kian ia jatuh ke hati , bermain hati bersama hati , terluah perasaan cinta , lalu ikhlas mulut mengkotakan bicara , katakan saling sayang menyayang. Namun bukan mudah bagiku. Aku meminta pada yang sukar tuk percaya , susah untuk diterima. Perasaan sayang itu timbul tapi ia bukan cinta. Kerna pujangga tak bisa bicara tentang cinta kerna terlalu tinggi martabatnya. Kalau bisa tercipta seseorang mengetahui perasaan yang lain nya , tenang minda dari tersiksa. Mudah untuk menguasai segala.
Namun tak tercipta akal untuk biarkan ia terlaksana , yakni ini kuasa yang Maha Esa. Biarlah apa yang bermain dalam hati insan yang disayangi menjadi rahsia , kerna itulah nikmat cinta yang menjadi nadi dalam hidup alam semulajadi ciptaan Illahi. Tugas laskar cinta untuk mencari ertinya yang berlegar-legar dalam sanubari.




