Sunday, April 09, 2006 

Naluri


Malam menghitung hari demi hari , menutupi sang bumi dengan kegelapan setiap sisi. Hari bersilih ganti dan aku masih menanti dan setia memikirkan tentang kehidupan duniawi. Aku ingin menyatakan diri ku seperti dilamun angin yang meyusur sepoi-sepoi bahasa menerbangkan aku tanpa arah. Menjejaki masa yang mengejar aku umpama tiada kenal penghujungnya. Benak rasa hati ni. Aku hilang arah dan tumpuan irisku. Mengejar bintang di langit sedang kan kerlipan bintang dibayangi bulan yang terang. Niat ingin memetik bunga yang mempersona di taman yang indah sedangkan sang kumbang sudah menanti musuh mendatang. Kusut fikiran ku , pilu hatiku. Kegembiraan yang ku sangkakan seperti di fauna yang tenang rupanya sang harimau menanti tuk mencengkam hati yang gusar.
Dibuai mimpi di alam mimpi, bermain riang dalam minda akan setiap hari. Bukan ku pinta untuk dikasihi tapi kenapa tatkala ada lautan yang terbentang luas untuk di lalui masih sukar diharungi sedangkan jambatan teguh dibina nan laluan mudah untuk di lalui. Urgh.. Menatap wajahmu setiap hari bagai membuat warkah yang indah dalam bingkisan hidup seorang pujangga yang sering mempersoalkan tentang naluri hati dan perasaan. Bukan inginku meminjam dirimu dari yang berhak memiliki tapi kenapa kurniaan sempurna sepertimu digenggam oleh insan paling bertuah di muka bumi. Bukan bersandiwara hikmah di hati , kerna kejujuran adalah yang pasti. Biar benar diujur dengan kata kata , aku ibarat kain putih , tak bisa menimbulkan suasana , kerna kau lah yang lebih layak mencoraknya wahai teman yang kusingkapkan sebagai cinta. Posted by Picasa

Friday, April 07, 2006 

Kitaran


Hari ni aku ingin mengupas lagi rentetan hidup seorang arjuna yang ingin menempuh liku-liku dinamik dalam menghadapi ranjau kehidupan. Titisan peluh jatuh ke tanah membasahi lapisan bumi untuk mencetuskan pengalaman dalam jatidiri. Memang senang untuk melafazkan tapi tidak semudah untuk melaksanakan. Terbit dalam hati ingin melangkah setiap saat dalam kehidupan dengan tenang , lantas jua ditenung jalan lurus yang menyusuri setiap tapak langkahmu. Tidak disedari di sebalik jalan yang disangkakan penuh dengan kenangan indah nikmat dunia namun hakikatnya ranjau yang bertakhta. Menyimpangkan akal dan fikiran setiap yang cuba melepasinya. Disangkakan panas berpanjangan rupanya kilat yang bisa memanah. Menghukum pada yang mengingkari. Namun jelas arjuna ingin cuba meluruskan benang yang basah , namun tiada daya bila yang tidak dipinta yakni datang secara tiba-tiba.


Kau kuasai dirimu , bertindak mengikut tentu bukan bersandarkan hawa nafsu. Jangan angkuh dengan sifat liarmu. Kerna sesunggunya setiap makhluk bernyawa di bumi ini sedang diperhati. Di nilai dan diberi balasan yang setimpal. Hidupmu bak roda , tiada penghujungnya. Tiada ruang untuk mu untuk meloloskan diri dari pandangan yang memerhati. Diekori setiap peri. Budi baik pasti balas baik , yang jahat tetap terus terpahat dalam hati. Sedarlah, sesungguhnya Maha Esa menjadi kan dunia ini umpama kitaran , berputar tanpa kenal erti berhenti. Ironinya , mungkin balasan dari sifat mungkar mu tidak sampai tepat ke arahmu , entah mungkin tiba di sisi insan yang tersayang? Hmm.. Kerna yang utuh , kau tak kan bisa lari dari menjadi hamba yang dicatit perilakunya untuk perhitungan di nian hari... Renungkanlah..
Posted by Picasa

 

Kecil


Beberapa ketika sebelum aku menulis satu lagi manik manik keindahan dan panorama dalam hidupku , mata aku menjadi saksi mempertontonkan keriangan kanak-kanak bermain girang. Usah ditanya perasaan ku , sudah pasti aku mengatakan gerak geri kanak-kanak yang bermain di depanku mengimbau kembali bibit-bibit memori indah sewaktu aku masih di usia kecil. Mengikut cerita nenda ku yang terchenta , aku nyaris tidak punya nyawa waktu baru menghembus nafas di alam nyata, cerita yang telah merungkai pelbagai kata , namun alhamdulilah aku masih teguh berdiri hingga kini. Aku membesar dengan penuh adab dan tunjuk cara agama yang satu. Dari kecil aku sudah menatap ayat suci Al-Quran dan mendalaminya , menelaah dan mengamalkan akhlak mulia. Sudah jadi lumrah , dunia kecil ku dihidangkan dengan penuh kemewahan kota. Almaklumlah , nyawa ku baru dari akar umbinya , aku tidak mengenal erti duka , aku hanya menyusup erti gembira. Rakan sepermainan menjadi jiwa buatku. Berlari ke sana ke sini , tanpa menghirau erti waktu. Dikata ya , maka itu lah yang akan ku bicara. Buku umpama syarat untuk ku terus bersuka. Sekolah menjadi medan untuk ku bergaul dengan teman semua. Baju hijau menjadi bukti yang bukan sahaja murid biasa yang bisa nakal , aku juga. Ia mengajar aku menjadi lebih berani , melakukan apa sahaja tanpa perasaan was was di hati.
Namun kerianganku dibatas dengan adab warisan melayu. Supaya anak jati bangsa terulung ini tidak rosak di nian hari. Dipukul , diherdik , dibelai , dimanja menjadi lumrah bagiku menggamit usia. Tapi semua tu membuatku lebih dewasa , menggunakan akal di yang sempurna. Mungkin ada yang lebih tersiksa , lebih diuji oleh yang Maha Esa. Walau tinggi baru sekaki dahan rimba , namun ujiannya bagai badai yang melanda. Aku bersyukur ke atas kejadianku. Setiap tawa dan duka tersemat dalam memori mindaku. Biarlah ia menjadi kenangan yang terus membawa semangat bagiku bagi melebarkan sayap sang arjuna.
Posted by Picasa

About me

  • I'm amel
  • From Putrajaya, Malaysia
  • Ini hanyalah nukilan yang bermain di hati yang dicoretkan menjadi butir butir perkataan. Biar ia dihayati untuk pedoman di nian hari. Terdapat lebih dari 30 artikel untuk tatapan, hanya klik pada setiap bulan untuk setiap artikel
My profile
Powered by Blogger
and Blogger Templates