Naluri
Malam menghitung hari demi hari , menutupi sang bumi dengan kegelapan setiap sisi. Hari bersilih ganti dan aku masih menanti dan setia memikirkan tentang kehidupan duniawi. Aku ingin menyatakan diri ku seperti dilamun angin yang meyusur sepoi-sepoi bahasa menerbangkan aku tanpa arah. Menjejaki masa yang mengejar aku umpama tiada kenal penghujungnya. Benak rasa hati ni. Aku hilang arah dan tumpuan irisku. Mengejar bintang di langit sedang kan kerlipan bintang dibayangi bulan yang terang. Niat ingin memetik bunga yang mempersona di taman yang indah sedangkan sang kumbang sudah menanti musuh mendatang. Kusut fikiran ku , pilu hatiku. Kegembiraan yang ku sangkakan seperti di fauna yang tenang rupanya sang harimau menanti tuk mencengkam hati yang gusar.
Dibuai mimpi di alam mimpi, bermain riang dalam minda akan setiap hari. Bukan ku pinta untuk dikasihi tapi kenapa tatkala ada lautan yang terbentang luas untuk di lalui masih sukar diharungi sedangkan jambatan teguh dibina nan laluan mudah untuk di lalui. Urgh.. Menatap wajahmu setiap hari bagai membuat warkah yang indah dalam bingkisan hidup seorang pujangga yang sering mempersoalkan tentang naluri hati dan perasaan. Bukan inginku meminjam dirimu dari yang berhak memiliki tapi kenapa kurniaan sempurna sepertimu digenggam oleh insan paling bertuah di muka bumi. Bukan bersandiwara hikmah di hati , kerna kejujuran adalah yang pasti. Biar benar diujur dengan kata kata , aku ibarat kain putih , tak bisa menimbulkan suasana , kerna kau lah yang lebih layak mencoraknya wahai teman yang kusingkapkan sebagai cinta. 




