Roda
Awan membiru di langit yang tinggi , sinar mentari muncul di sebalik bagi menyuluh umat di bumi. Sekecil kecil manusia di lihat di ruang angkasa kecil lagi dilihat nasib yang di harungi oleh mereka. Pelbagai asam garam manusia diperhatikan , diselami , dinilai dan dinikmati bagi dikongsi oleh kalian yang lain. Bagi yang memijak bumi mereka hanya meminta yang terbaik. Karenah mereka diucapkan dengan pelbagai cara. Bagi untuk semua menerima. Walau seburuk² sekuntum bunga mereka masih mempunyai hati untuk memilih yang sempurna. Permintaanku untuk mengapai bintang , memiliki apa yang tersurat di hati bukan semua terlaksana. Bukan semua pucuk mendatang. Aku lelah berusaha untuk meneruskan prosa kehidupanku. Kadang-kala aku memikir , kenapa yang yang dipinta tidak tercipta malah bala yang menimpa. Sering kali ia menyusur nasibku. Sekali-sekala membuat butir² air jatuh melinang dari mataku. Mungkin sifat buruk ku di nian hari dihitung dan mengenai diriku kembali.
Aku menganggap dunia ini ibarat roda , berputar menilai setiap peri mazhab di bumi. Aku tak pernah salahkan sesiapa , aku menggantung diriku dalam situasi agar aku berpuas hati yang selama ini , diriku harus di perbaiki. Semakin hari semakin banyak dugaan yang ku tempuhi. Namun aku rela , jika kesudahan coretannya adalah yang murni. Aku berdoa.
Aku menganggap dunia ini ibarat roda , berputar menilai setiap peri mazhab di bumi. Aku tak pernah salahkan sesiapa , aku menggantung diriku dalam situasi agar aku berpuas hati yang selama ini , diriku harus di perbaiki. Semakin hari semakin banyak dugaan yang ku tempuhi. Namun aku rela , jika kesudahan coretannya adalah yang murni. Aku berdoa.
