Aura
Bingkisan coretan dalam alam khayalanku dulu masih dibuai hingga kini. Saat-saat manis masih menjadi ingatan dalam kotak mindaku. Namun diari hatiku sudah mengikis naluri sedih kerna ku harus mengerti bahawa hidupku perlu terus mengejar mimpi. Persoalan menjadi tanda tanya dalam satu hubungan yang di namakan cinta. Adakah diriku mampu berdiri teguh tanpa belaian seorang puteri di sisi. Menjalani rutin tanpa seorang wanita yang menjadi nadi seorang lelaki. Tiada lagi tawa manja tiada lagi titisan air menyusup jatuh dari pipi.
Arjuna bisa alpa. Bila nafsu mengusai jiwa. Lain yang bisa tercipta. Kemungkaran akan terlaksana. Bukan itu yang ku pinta, setelah berhari zahirku terseksa. Tiada yang bisa menembus jiwaku yang ternyata lemah untuk menerima. Walaupun aku telah rela mencuba. Sedikit demi sedikit hatiku dicuri masa. Aku semakin dewasa. Semakin matang dan tenang melangkah waktu. Bukan mudah untuk diriku menyemat potret cinta dlm hati.
Hanya firasat dan naluriku bisa menyedari bila ia akan kembali. Akanku hidu, ku tenung dan menanti saat indah satu episod yang baru dalam hidupku. Bila? biar masa yang menentukan segalanya. Kelak aura seorang bidadari akan muncul menyinari hidupku , menerangi setiap ruang dalam hatiku.
Arjuna bisa alpa. Bila nafsu mengusai jiwa. Lain yang bisa tercipta. Kemungkaran akan terlaksana. Bukan itu yang ku pinta, setelah berhari zahirku terseksa. Tiada yang bisa menembus jiwaku yang ternyata lemah untuk menerima. Walaupun aku telah rela mencuba. Sedikit demi sedikit hatiku dicuri masa. Aku semakin dewasa. Semakin matang dan tenang melangkah waktu. Bukan mudah untuk diriku menyemat potret cinta dlm hati.
Hanya firasat dan naluriku bisa menyedari bila ia akan kembali. Akanku hidu, ku tenung dan menanti saat indah satu episod yang baru dalam hidupku. Bila? biar masa yang menentukan segalanya. Kelak aura seorang bidadari akan muncul menyinari hidupku , menerangi setiap ruang dalam hatiku.
